Alasan Pelatih Ganda Putri Mengganti Pasangan Apriyani Rahayu

Perubahan pasangan dalam sektor ganda putri bulu tangkis Indonesia, khususnya yang melibatkan Apriyani Rahayu, didasarkan pada beberapa pertimbangan strategis dan kondisi terkini. Berikut adalah alasan utama di balik keputusan tersebut:​

1. Pemulihan Cedera Apriyani Rahayu

Apriyani Rahayu mengalami cedera yang memerlukan waktu pemulihan cukup panjang setelah tampil di Olimpiade Paris 2024. Asisten pelatih ganda putri Pelatnas PBSI, Nitya Krishinda Maheswari, menegaskan bahwa tim pelatih tidak ingin memaksakan Apriyani untuk segera kembali ke lapangan sebelum kondisinya benar-benar pulih. “Kami masih lihat kualitas latihannya sudah sejauh mana. Kalau belum oke, ya, gak bisa dipaksakan,” ujar Nitya. ​

2. Evaluasi Performa Pasangan

Setelah pemulihan, Apriyani kembali dipasangkan dengan Siti Fadia Silva Ramadhanti dalam tur Eropa. Namun, hasil yang kurang memuaskan di turnamen seperti Orleans Masters dan All England 2025 membuat tim pelatih mengevaluasi kembali pasangan ini. Akibatnya, mereka memutuskan untuk menarik Apriyani/Fadia dari Swiss Open 2025 guna melakukan penyesuaian strategi.

3. Kebijakan Bongkar Pasang Pasangan

Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi Pelatnas PBSI, Eng Hian, memberikan keleluasaan kepada pelatih untuk melakukan bongkar pasang pasangan ganda sepanjang tahun 2025. Tujuannya adalah menemukan kombinasi terbaik yang dapat bersaing di level internasional dan mempersiapkan diri menuju Olimpiade Los Angeles 2028. “Untuk program di ganda menuju ke 2028, kami memberikan kebebasan kepada pelatih untuk melakukan bongkar pasang pasangan sepanjang 2025,” kata Eng Hian. ​

4. Regenerasi dan Pembentukan Pasangan Kompetitif

Pelatih ganda putri pratama, Ade Lukas, menekankan pentingnya regenerasi dan pembentukan pasangan baru yang kompetitif. Ia berkomitmen untuk menciptakan pasangan yang mampu bersaing dengan negara-negara kuat seperti China, Jepang, dan Korea Selatan. “Target saya adalah agar atlet-atlet Pratama bisa bersaing dengan ganda putri dari negara seperti China, Jepang, dan Korea,” ujar Ade Lukas. ​

Perubahan pasangan dalam tim ganda putri Indonesia merupakan bagian dari strategi jangka panjang PBSI untuk meningkatkan performa dan daya saing di kancah internasional. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi atlet, evaluasi performa, serta tujuan pembinaan menuju prestasi optimal